Terpidana Mati Merry Utami: Berdoa Saja Ya…

Terpidana Mati Merry Utami: Berdoa Saja Ya…

Meski telah divonis hukuman mati, Merry Utami tak pernah menampakkan kegalauan kepada Devi. Bahkan ketika menghadapi rencana eksekusi yang kian dekat, dia justru makin tenang.

 

Sikap tenang dan bijak yang ditunjukkan mamanya membuat Devi kian yakin bahwa wanita yang melahirkannya tidak bersalah. Mungkin Merry berada di tempat dan waktu yang salah.

”Dari dulu saya meyakini mama berjuang untuk kakak saya. Mungkin dia pernah kepleset di jalan yang salah sehingga ketemu orang tidak bertanggung jawab, bahkan membuatnya terkurung 15 tahun di dalam penjara dan kemarin masuk daftar eksekusi mati. Tapi mama tidak pernah mau menceritakan yang sedih-sedih. Saya meyakini mama punya alasannya sendiri untuk tidak menjelaskan ke saya,” terang Devi.

Jika Devi mendesak untuk dijelaskan, mamanya selalu mengelak. ”Nggak apa-apa, berdoa saja ya..,” ujar Devi menirukan kalimat mamanya.

Ketabahan ibundanya itu akhirnya menular ke Devi. ”Setelah pertemuan pertama itu, saya tidak pernah lagi melihat air matanya. Justru saya yang sering menangis. Mama selalu menguatkan saya,” katanya.

”Begitupun di saat-saat yang kami duga terakhir itu. Mama sangat tenang, tabah dan pasrah. Karena mama meyakini, semua kehidupan ini milik Tuhan dan akan kembali ke Tuhan bagaimanapun caranya. Itulah yang membuat saya bangga punya mama Merry Utami,” ucap Devi bangga. 

Merry, kata Devi juga mensyukuri segala pengalaman hidup yang boleh dia terima di dalam lapas. Dia lebih bisa mendekatkan diri pada Tuhan.

Penerimaan ibunya itu membuat Devi pun turut bersyukur dengan segala hal yang terjadi pada keluarganya, yang membuatnya kian dewasa. Dia percaya, ibunya sampai di Nusa Kambangan dan menjadi berita besar karena pembelaan banyak orang bukan tanpa alasan. Mungkin inilah saatnya negara berbenah dan mengevaluasi penerapan hukuman mati. 

Soal fakta yang didapat LBH Masyarakat dan Komnas Perempuan bahwa ayahnya menghambur-hamburkan uang hasil kerja ibunya, Devi mengaku baru mengetahuinya. Memang saat kecil ia pernah mendengar tetangga mengatakan, ”Istri kerja susah-susah bukannya digunakan dengan benar.”

Belakangan, saat sudah berumah tangga, Devi baru bisa meraba dan merangkai persoalan yang dihadapi ibunya kala itu. ”Kiriman uang hasil kerja ibu itu bukan hanya untuk berobat kakak, tapi juga dibelikan boneka untuk saya,” akunya.

”Sesekali bapak juga mengajak kami ke mal. Setelah saya besar bapak baru mengatakan itu dari mama. Walaupun bapak saya seperti itu, tapi masih ada upaya untuk sama-sama membesarkan anaknya,” pungkas Devi, bijak.*

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Zulham dan Istimewa