Curahan Hati Putri Terpidana Mati Merry Utami

Curahan Hati Putri Terpidana Mati Merry Utami

Di tengah hujan lebat dan petir menyambar-nyambar, Devi, putri terpidana mati Merry Utami meninggalkan Cilacap menuju Magetan. Dia harus menyiapkan penyambutan dan pemakaman ibunya yang malam itu dijadwalkan dieksekusi mati di Nusa Kambangan. Namun di tengah jalan teleponnya berdering, ibunya batal dieksekusi.

 

Menjerit sambil mengucap syukur, Devi meminta suaminya memutar arah kemudi, Jumat, 29 Juli 2016, dini hari. Bersama dua buah hatinya, yang sulung 3 tahun dan si bungsu belum genap berusia 3 bulan, mereka kembali ke hotel di Cilacap yang menjadi persinggahan sejak mendengar kabar ibunya akan dieksekusi mati melalui berita di televisi.

Kabar tersebut bagai oase ketika harapan Devi untuk bisa melihat ibundanya, Merry Utami, dalam keadaan hidup sudah pupus. Meski tak ada konfirmasi resmi, hampir pasti wanita yang melahirkannya itu akan dieksekusi mati di Nusa Kambangan.  

”Ya, tidak ada pemberitahuan resmi dari kejaksaan kepada kami. Untunglah saya menyimpan kontak salah satu petugas lapas Tangerang yang beberapa waktu lalu mengontak saya karena anaknya akan liburan ke Sarangan, Jawa Timur. Hari Minggu (24 Juli, red) itu juga saya telepon beliau untuk mengonfirmasi kebenaran berita di televisi. Dan benar, beliau mengatakan mama masuk daftar eksekusi,” cerita Devi menghela napas.

Begitu mendapat kepastian ibundanya telah dipindah dari Lapas Tangerang ke Nusa Kambangan, Devi bergegas ke Cilacap, Jawa Tengah. ”Jaksa mengatakan, kalau saya tiba lusa, waktu untuk ketemu mama sangat pendek. Saya langsung bilang ke suami untuk berangkat hari itu juga,” lanjutnya.

Sepanjang perjalanan hingga tiba di Cilacap, perasaan Devi tak karuan. Slentingan kabar menyebut, Merry Utami dan 13 terpidana mati lain yang masuk daftar eksekusi jilid 3 akan dihadapkan pada regu tembak pada Jumat, 29 Juli 2016, dini hari.

Sehari sebelum pelaksanaan eksekusi, ketegangan di kota Cilacap hingga sekitar Dermaga Wijaya Pura Nusa Kambangan memuncak. Keluarga para terpidana mati termasuk Devi, hilir mudik di tengah penjagaan ketat personel kepolisian. Pertemuan terakhir dibatasi hingga Kamis siang pukul 14.00 WIB.

Dalam perjumpaan singkat itu, Devi melihat dan merasakan ibunya sangat siap menghadapi eksekusi. ”Lebih tepatnya pasrah. Kalau memang jadi dieksekusi, berarti menurut Tuhan hidupnya memang harus berakhir,” ungkapnya.

”Itulah yang membuat saya kuat, meski tentunya masih berharap eksekusi dibatalkan karena tim kuasa hukum masih mengajukan grasi,” tambah Devi, sambil menyeka air mata.

Devi yang turut pasrah pun segera menyusun langkah logis. Dia putuskan tidak berada di dekat ibunya saat dieksekusi.

Devi memilih pulang ke Jawa Timur lebih dulu untuk menyiapkan penyambutan jenazah dan pemakaman. Sekitar pukul 2 dini hari, eksekusi sedianya dilakukan pukul 00.00 WIB, Devi mendapat telepon dari nomor tak dikenal.

”Biasanya kalau ada nomor tak dikenal masuk saya tidak langsung angkat. Takutnya wartawan yang mau wawancara. Tapi entah kenapa saat itu langsung saya angkat. Rupanya dari kejaksaan, mengabarkan kalau mama tidak jadi dieksekusi. Saya langsung menjerit bersyukur dan meminta suami putar balik. Kita harus kembali ke Cilacap,” ucapnya saat itu.

Mama Muncul di Televisi

Tiba di Cilacap, Devi segera menjumpai tim kuasa hukumnya dari LBH Masyarakat dan Komnas Perempuan yang juga telah mendapat kabar serupa. Tak sabar mereka ingin segera menjumpai Merry.

Namun semua harus bersabar hingga Jumat siang, saat kejaksaan memberi kepastian bahwa Merry telah dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Cilacap. Sekitar pukul 13.30 WIB, di tengah cerahnya cuaca Cilacap yang mulai menghangat, dua mobil berisi Devi bersama 7 orang perwakilan komisioner Komnas Perempuan dan tim LBH Masyarakat menuju Jalan Kerinci Cilacap.

Sempat berhenti sejenak di sebuah pusat berbelanjaan tak jauh dari lapas, mereka kemudian berkumpul di depan sebuah pintu kayu besar bercat hitam. Mereka disambut petugas lapas yang mengonfirmasi identitas masing-masing. Tak lama mereka diperkenankan masuk untuk bertemu Merry. 

Keluar dari lapas, Devi bisa mengulas senyum. Dia lantas kembali ke hotel, menjumpai suami dan dua buah hatinya yang tak kalah gembira.

Malamnya, Devi bersedia menjumpai WI di salah satu kamar hotel untuk berbagi kisah pilu keluarganya.  Mengenakan atasan coklat dan celana senada, wanita berambut pendek ini meminta tidak diambil gambarnya.

Menurut Devi, pertemuan dengan ibunya siang hari itu hanya berlangsung kurang lebih 15 menit. Mereka pun tidak banyak cerita, hanya berpegangan tangan dan saling pandang.

Bagi Devi sentuhan dan tatapan mereka telah mengungkapkan segalanya. Meski tentu saja banyak yang ingin mereka ceritakan secara lisan. Harapan terbesar Devi, ibundanya benar-benar dicoret dari daftar terpidana mati.

Bukan harapan yang sifatnya emosional. Devi menyatakan, banyak fakta tentang ibunya yang harus diselidiki ulang. Tentu ada alasan kemanusiaan, dia masih ingin menikmati kebersamaan dengan wanita yang melahirkannya, yang telah mengajarkan berbagai nilai kehidupan meski dari balik jeruji besi.

Ibu dua anak ini mengenang, dia mengetahui ibunya ditangkap polisi melalui berita di televisi. Saat itu usianya masih sangat belia, kelas 3 SD.

”Saya ditinggal ibu sejak kelas 1 SD, sekitar tahun 1998. Suatu hari di tahun 2000 itu entah kenapa saya dan kakak menonton berita. Di layar ada tulisan nama Merry Utami, saya langsung bengong. Tapi tidak sampai berita itu habis, saya sudah ditarik ke kamar oleh bapak,” ungkap Devi.

Sebenarnya Devi masih penasaran, ada apa dengan mamanya kok muncul di televisi dengan wajah ditutup syal. ”Saya berontak dan teriak-teriak, menanyakan ada apa? Namanya anak kecil, melihat nama dan ciri-ciri ibunya dibawa polisi tentu ketakutan dan bertanya-tanya. Mana sudah tidak pernah bertemu mama lagi,” kenangnya, tercekat.

Saat itu Devi sudah berpindah domisili dari Sukoharjo ke Jawa Timur. Ia tinggal bersama ayah, kakak serta nenek-kakeknya dari pihak ayah di Magetan.

Anak dan Ibu Meninggal

Sejak kejadian itu, Devi terus bertanya-tanya di mana ibunya? Dia sangat rindu ingin bertemu. Yang membuatnya kian sedih, ibunya juga tidak hadir saat kakaknya yang menderita kelainan jantung meninggal pada tahun 2004. 

”Padahal saya tahu, dari awal kepergian mama adalah untuk berjuang bagi kakak saya. Dari lahir kakak saya ini menderita kelainan jantung. Setahu saya klepnya bocor. Kalau kambuh telapak tangan-kakinya dingin dan berwarna biru. Lalu hidungnya mimisan dan muntah darah hingga pucat pasi. Maka ibu harus berjuang demi anaknya,” kisah Devi menarik napas pajang, menghapus air matanya yang tak terbendung. 

Masih segar di ingatan Devi, ketika itu mereka sekolah di tempat yang sama. Dia kelas 1 SMP sementara kakaknya kelas 3 SMP.

”Kelas saya lokasinya di depan, sementara kelas 3 gedungnya belakang. Saat itu saya lihat ada ramai-ramai. Saya pikir biasa, ada anak laki-laki berantem. Tapi tidak lama kemudian saya didatangi guru, katanya Devi pulang ya, kakak kambuh. Kalau tidak di rumah ya di rumah sakit,” tirunya.

Devi mencurigai ada sesuatu yang serius menimpa kakanya. ”Kakak sering kambuh di sekolah, tapi biasanya hanya dipulangkan tanpa sepengetahuan saya. Ternyata yang saya lihat ramai-ramai itu menggotong kakak. Dia tiba-tiba jatuh saat mengerjakan tugas. Dipikir pingsan biasa, tapi dicubit-cubit segala macam tidak bangun. Kakak segera dibawa ke puskesmas, tapi ternyata sudah meninggal,” ujarnya sambil menyeka air matanya.

Sepanjang jalan menuju rumah, Devi gemetaran. ”Pas buka pintu, kakak saya sudah dibaringkan di ruang tamu. Saya histeris. Saya merasa bersalah sering iseng sama dia. Saya berpikir teman saya siapa lagi? Mama tidak ada, dia yang selalu berantem dengan saya juga pergi,” ucapnya pilu.

Saat yang sama, mamanya yang tiba-tiba merasakan firasat tak enak menelepon dari lapas ke rumah mertuanya. ”Ketika itu jenazahnya belum dibawa pulang. Mama nanya ke mbah putri saya, di rumah ada apa? Nenek tidak kuat memberitahu, telepon diambil alih mbah kakung, katanya, ’Yang sabar ya nduk, Yosi sudah meninggal.’ Di ujung telepon mama pingsan,” kisah Devi, lagi-lagi air matanya tak terbendung.

Bukan sekali itu Merry hanya bisa menangis dari jauh mendengar orang-orang dekatnya dipanggil Yang Kuasa. Yang kedua adalah kepergian ibunya pada tahun 2009. ”Kepergian dua orang ini sangat memukul hati mama, apalagi dia tidak bisa hadir melepas mereka,” ujar Devi lirih.

Kekuatan Boneka Monyet

Rasa kehilangan dan kesedihan yang mendalam membuat Devi ingin menjumpai mamanya. ”Sebenarnya ada rencana liburan sekolah tahun depan, saya, kakak dan bapak mau sama-sama menengok mama. Bapak bilang gitu. Tapi Allah berkehendak lain. Mungkin kakak lebih bahagia di alam sana, jadi dia dipanggil sebelum ketemu mama. Usianya 15 tahun 3 hari,” ungkapnya, menundukkan kepala.   

Begitulah akhirnya Devi bertemu Merry tanpa kakaknya. Pertemuan yang tak pernah dia lupakan. ”Saat itu saya tidak mengenali mama. Saya sempat berpikir, siapa ya melihat saya kok nangis. Mungkin karena saya ditinggal masih kecil dan baru 7 tahun setelahnya bertemu, jadi tidak begitu ingat wajahnya. Tak lama kemudian dia memeluk. Kata bapak, ini ibumu,” tirunya, mencoba tersenyum. Mereka berbicang seperti orang baru kenal.

Sepulang dari sana Devi dioleh-olehi boneka monyet yang hingga kini masih dijaganya. Bahkan dia turunkan ke putrinya.

”Belakangan anak saya yang pertama selalu mencari neneknya, ibu saya, dan boneka itu bisa menenangkan. Bahkan selalu dia bawa tidur. Saya bersyukur, mungkin itu bukti ikatan batin antara cucu dan nenek,” kisah Devi kembali menyeka air mata.

Pertemuan pertama itu membuat Devi kian merindukan mamanya. Dia ingin berkunjung lagi dan lagi. ”Saya saya masih punya mama. Walaupun tidak dekat, apalagi satu rumah,” katanya.

”Sebelumnya saya selalu merasa sendiri setiap kali melihat teman-teman dari keluarga yang utuh. Bahkan saya iri ketika melihat sepupu-sepupu bisa berkumpul dengan keluarganya,” lanjut Devi. 

Mendengar suara ibunya 1-2 kali dalam sebulan melalui saluran telepon adalah obat rindu Devi. ”Di lapas ada wartel dan boleh telepon keluarga walau dibatasi. Jadi sejak pertemuan itu mama terus yang menelepon saya. Kalau sedang kangen, saya tungguin terus telepon rumah berdering,” ceritanya.

Tak lupa Devi terus mencari cara untuk bisa sampai di lapas Tangerang sendirian. Pasalnya dia tak mau membebani ayah dan keluarganya yang bekerja.

”Sebenarnya ada keluarga di Jakarta yang menawarkan jemputan. Tapi saya pikir kejauhan dari lapas. Kebetulan ada teman gereja mama yang biasa memberikan pelayanan di lapas, menawarkan tumpangan. Akhirnya saat kelas 3 SMP saya beranikan berangkat sendiri naik kereta. Saya yakinkan mama kalau saya sudah besar,” tutur Devi.

Sejak itu, Devi sering bolak-balik ke Tangerang. ”Apalagi waktu SMA saya latihan hidup mandiri dengan nge-kost di Madiun,” katanya.

Devi tidak pernah malu mengakui keberadaan ibunya pada teman-teman terdekatnya. ”Bagaimanapun kondisinya, saya bersyukur masih memiliki ibu. Apalagi banyak keluarga yang kelihatan utuh pun tidak sebahagia saya. Ada yang terlibat kenakalan remaja dan sebagainya,” katanya.

”Walau dari dalam tahanan mama bisa mendampingi saya melewati masa remaja tanpa aneh-aneh. Jadi setiap kunjungan, mama selalu memanfaatkan waktu untuk mengisi hal positif pada saya. Supaya tidak lupa berdoa, supaya hidup dengan baik, selalu bersyukur dan tegar menghadapi masalah. Beliau juga menyemangati saya untuk jadi orang baik dan punya masa depan lebih baik dengan serius sekolah hingga kuliah,” ungkap Devi. *

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Zulham dan Istimewa