Penolong di Hari Kiamat

Penolong di Hari Kiamat

Di bulan Ramadan ini kita disarankan memperbanyak amal ibadah. Salah satunya, kata Ustazah Lulung Mumtaza adalah membaca Alquran. Agar semakin dekat, alangkah baiknya kita pahami juga maknanya.

 

Sebagai mukjizat yang diberikan Allah Swt kepada Nabi Muhammad SAW, Alquran turun sebagai pedoman hidup manusia. Untuk itulah kita diwajibkan memahami isinya agar benar-benar bisa menggunakannya sebagai pedoman.

Hanya saja, adakalanya kita merasa berat untuk membaca Alquran. Tapi banyak pula kita lihat saat ini orang-orang berlomba untuk menjadi penghapal Alquran bahkan usianya masih anak-anak.

Momen Ramadan ini adalah saat yang paling tepat untuk lebih dekat dengan Alquran. Apalagi selama bulan puasa ini Allah swt telah menjanjikan akan memberikan pahala berlipat-lipat.

Tak heran, sepanjang waktu, di musala, masjid mapun di rumah-rumah kita jumpai umat muslim membaca Alquran. Bahkan ada yang memasang target mampu mengkhatamkan hingga beberapa kali selama Ramadan.

Namun alangkah sayangnya bila kita hanya mengejar seberapa banyak mampu mengkhatamkan Alquran. Akan lebih baik jika memahami makna setiap ayatnya.

Dalam alquran QS. Al Muzamil ayat 4 disebutkan, Bacalah Alquran dengan tartil. Dalam artian, membaca alquran dengan tidak tergesa-gesa agar kita paham maknanya.

Ditambahkan dalam QS. Al Qiyamah ayat 17-18, Sesungguhnya atas tanggungan Kami lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.

Banyak hal yang kita dapat dari memahami Alquran. Asal jangan sampai salah memaknainya, kita bisa menemukan jawaban dari berbagai persoalan dalam di Alquran. Seperti yang tercantum dalam QS. Yunus ayat 57 yang artinya, Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Bagi orang tua yang mengajarkan anaknya membaca Alquran atau dengan memanggil guru sehingga si anak yang tadinya tidak bisa menjadi bisa. Di akhirat kelak, orang tua tersebut akan diberikan mahkota dan jubah dari surga, sebagai tanda bahwa dia membuat anaknya bisa membaca Alquran.

Sebagai syafaat (pertolongan) disebutkan jika Alquran bisa membuat jalan seseorang menjadi lurus. Contohnya, jika ada suami istri yang kerap bertengkar karena sang suami berpikir tidak wajib menafkahi sang istri yang bisa mencari nafkah sendiri.

Jika saja si suami membaca Alquran dan paham maknanya, tentu dia tahu jika menafkahi istri adalah kewajibannya. Karena Alquran ada sebagai petunjuk yang lurus bagi umat manusia. Seperti yang tertulis dalam QS. Thaha ayat 2 berbunyi, Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu agar kamu menjadi susah

 

Tidak Cukup Hanya Membaca

Untuk mendekatkan diri dengan Alquran, kita bisa mengikuti cara para sahabat Nabi. Mereka mengaji sehari lima ayat dengan mengupas tuntas mulai dari asbabun nuzul, hadis, tafsir hingga tajwidnya. Setelah itu baru ditambah lagi ayat yang dibaca. Jika kita ingin mengikuti cara para sahabat, kita bisa bergabung di komunitas kajian Alquran.

Walaupun sedang tidak memegangnya, kita bisa menjaga mulut kita tetap berlisan Alquran. Selain dengan membaca, kita bisa mengamalkan lewat zikir pagi dan sore. Misalnya saat di kendaraan umum membaca Ayat Kursi tiga kali atau membaca Surat Al Ikhlas tiga kali. Sehingga tidak merasa harus selalu membuka Alquran.

Seperti yang disampaikan Ibnu Abbas, agar membaca Alquran lebih bermakna, ada empat hal yang harus kita ketahui. Pertama, ayat dengan ayat digabung. Dalam artian, misalnya kita berbicara tentang salat ada di Surah Al Baqarah, cari lagi apakah di surat lain ada yang membahas tentang salat.

Kedua, ayat dengan hadis. Tak cukup kita hanya membaca Alquran, tapi sebaiknya juga dibaca hadis yang berkaitan. Keberadaan hadis sebagai sumber ajaran Islam yang kedua setelah Alquran hadir sebagai pelengkap.

Tak cukup itu saja, ketiga kita harus tahu juga sejarah turunnya ayat tersebut. Keempat, lengkapi ayat dengan bahasa agar bisa lebih dimengerti. Contohnya, ada yang mengatakan memakai jilbab harus panjang atau syar’i seperti yang disebutkan dalam Alquran.

Bagian dari ayat 31 dalam Surah An-Nuur disebutkan Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya. Dalam terjemahan dada, orang berpikir untuk menutup area dada kita. Tapi  jika menggunakan bahasa, kata juyub memiliki tiga arti. Selain dada, berarti pula payudara yang dimaknai agar kita menutup kantung susu. Ketiga, bisa diartikan kantung atau saku baju. Jika seseorang memakai gamis yang memiliki saku di paha bisa diartikan memakai jilbab sampai batas saku tersebut. Untuk itulah, dalam membaca Alquran penting melengkapi ayat dengan bahasa.

Begitulah, sungguh istimewanya Alquran sampai disebutkan dalam HR.Muslim, Bacalah Alquran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat (pertolongan) kepada yang membacanya.